Langsung ke konten utama

Teori Kotak Ego "Egoisme dalam Sebuah Hubungan"

    Egoisme adalah sebuah pandangan yang menempatkan diri sendiri sebagai hal yang paling penting dan utama. Sebuah hubungan senantiasa dibentuk oleh lebih dari dua orang, dengan kepentingan dan ego masing-masing, dimana mereka bersama untuk sebuah komitmen atau sekedar disatukan oleh keadaan yang mengharuskan mereka bersama dan saling mendukung untuk mencapai sebuah tujuan. 

    Pembahasan mengenai kotak ego ini akan saya fokuskan untuk membahas hubungan antara dua orang dalam kehidupan romansa, entah itu berumah tangga ataupun sedang dalam proses pendekatan menuju halal. 

    Dalam sebuah hubungan kita tempatkan 3 kotak ego, Disini kita misalkan hubungan antara si A dan si B. Hubungan ini memiliki tiga kotak ego,masing-masing kotak ego A, kotak Ego B dan kotak ego bersama yang kita beri nama kotak AB. Pada awal sebelum berkomitmen, kotak ego A dan kotak ego B masing-masing penuh. Dan kotak ego AB kosong. Seiring dengan berjalannya sebuah komitmen dan kebersamaan 3 kotak ini harus terisi, aturan pertama adalah tidak ada kotak yang boleh kosong jika tidak ingin sebuah hubungan berakhir. Aturan kedua, kotak AB hanya bisa diisi dengan memindahkan isi kotak A atau memindahkan isi kotak B. Tidak bisa dari luar.

  Dalam sebuah hubungan, tindakan-tindakan seperti memberi support kepada pasangan, menyemangati, berkomunikasi asertif, tidak emosional, menjadi teman bercerita yang baik, saling meringankan pekerjaan, yang dilakukan oleh salah satu baik si A maupun si B adalah tindakan yang mengisi kotak ego bersama. 

    Sementara itu bertindak emosional, perkataan toxic, tidak mau meminta maaf, tidak memberi dukungan mental, tidak menjadi teman bercerita yang baik merupakan tindakan yang memindahkan isi dari kotak ego bersama ke si A atau si B yang bertindak demikian.

      Terkadang seorang tidak mau disebut sebagai orang yang egois, akan tetapi tindakan-tindakannya seperti gengsi meminta maaf duluan, gengsi memberi pertolongan, dan tindakan-tindakan yang berkedok gengsi lainnya adalah indikasi bahwa dia sangat mementingkan diri sendiri dibanding keberlangsungan hubungan yang sedang mereka jalin.

     Dalam sebuah hubungan toxic yang tidak sehat, biasanya terdapat salah satu entah si A atau si B yang bertindak sebagai orang yang paling sabar. Dia terus mengisi kotak bersama agar hubungan tetap berlangsung. Dia meminta maaf, memberikan dukungan, mencoba berkomunikasi, memberi hadiah dan tindakan-tindakan yang menyenangkan pasangan. Sementara itu pihak satunya, dia terus-terusan memindahkan isi dari kotak bersama menuju kotak egonya, dengan bertindak egois, perkataan toxic, emosional, tidak mau meminta maaf duluan, dan tidak memberi apresiasi. Kondisi yang benar-benar membuat hubungan ini berada di ujung tandus adalah ketika isi dari kotak ego salah satu pihak habis karena terus menerus digunakan untuk mengisi kotak bersama. Begitu juga kotak bersama yang harusnya tetap terisi agar sebuah hubungan tetap berlangsung, lama-kelamaan juga akan habis karena isinya berpindah menuju pihak yang paling egois.

Lalu bagaimana sebuah hubungan yang sehat? Hubungan yang sehat adalah hubungan yang saling mengisi kotak bersama dengan tindakan-tindakan positif. Keberlangsungan sebuah hubungan yang sehat sangat terkait dengan bagaimana masing-masing pihak saling bergantian untuk mengisi kotak ego bersama. Tidak ada salah satu pihak yang terlalu egois, dan mau menang sendiri. Mereka saling mengisi, tidak gengsi untuk meminta tolong, meminta maaf ketika salah, dan kedua pihak saling berusaha untuk membahagiakan satu sama lain.








Komentar